Slide 1 Title Here

This is slide 1 description - Designcart.org

Slide 2 Title Here

This is slide 2 description - Designcart.org

Slide 3 Title Here

This is slide 3 description - Designcart.org

Slide 4 Title Here

This is slide 4 description - Designcart.org

Selasa, 03 Desember 2013

JAKARTA-Aksi penyadapan kembali menguncang Istana Kepresidenan Indonesia.  Kali ini, aksi penyadapan dilakukan  oleh agen mata-mata Australia. Tak tangung-tanggung, telepon genggam  Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  dan istrinya serta 9 orang penting dilingkaran istana menjadi menjadi sasaran penyadapan. Hal ini membuktikan, sistem komunikasi pejabat negara sangat rentan karena sebelumnya aksi penyadapan serupa juga dilakukan oleh  Australia dan Amerika Serikat terhadap sejumlah tokoh di tanah air.
Aksi penyadapan ini  ramai diberitakan media Australia pada Senin (18/11). Dokumen rahasia yang dibocorkan oleh whistleblower AS Edward Snowden dan diperoleh oleh Australian Broadcasting Corporation dan surat kabar The Guardian menyebutkan nama presiden dan sembilan orang dalam lingkarannya sebagai target  pengintaian dan penyadapan sejak semester kedua 2007. Uniknya, laporan The Guardian ini lengkap dengan merek handphone yang disadap.
Mereka yang disadap adalah Presiden SBY, Ibu Negara Kristiani Herawati. Keduanya menggunakan gadget Nokia E90-1. Di urutan ketiga adalah Boediono dengan BlackBerry Bold 9000.
Selanjutnya berturut-turut adalah Jusuf Kalla dengan handphone Samsung SGH-Z370, Dino Patti Djalal yang kala itu menjadi Juru Bicara Kepresidenan untuk Urusan Luar Negeri dengan BlackBerry Bold 9000.
Di urutan keenam ada Andi Mallarangeng yang kala itu masih Juru Bicara Kepresidenan untuk Urusan Dalam Negeri dengan handphone Nokia E71, Hatta Rajasa yang kala itu menjadi Menteri Sekretaris Negara dengan handphone Nokia E90-1, Sri Mulyani dengan handphone Nokia E90-1, Widodo AS yang kala itu menjadi Menkopolhukam dengan handphone Nokie E66 dan Sofyan Djalil, Menteri BUMN, dengan handphone Nokia E90-1.
Aksi penyadapan ini menyulut kemarahan pihak Istana Kepresidenan. Aksi ini berpotensi mengganggu hubungan baik kedua negara. Bahkan Kementerian Luar Negeri Indonesia memanggil pulang Duta Besar untuk Australia di Canberra sebagai jawaban kekecewaan atas insiden penyadapan terhadap Kepala Negara. “Kami memanggil pulang Duta Besar untuk Australia di Canberra guna melakukan konsultasi dan memperoleh informasi tentang apa yang terjadi di Australia,” kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa saat konferensi pers di Jakarta, Senin (18/11).
Menurut Marty, Indonesia telah mempertimbangkan pemanggilan tersebut karena menilai dubes tidak akan dapat melakukan tugas dengan baik di tengah isu penyadapan yang beredar. “Pemerintah Australia perlu klarifikasikan hal ini ke Pemerintah Indonesia. Ini penting untuk menjernihkan suasana. Adanya berita tersebut saja sudah berpotensi mengganggu hubungan,” kata dia.
Secara terpisah, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso pun menyesalkan aksi penyadapan yang dilakukan Australia ini. Ini terjadi karena pemerintah terlalu lembek. Apalagi, pemerintah belum melakukan langkah konkret terkait penyadapan oleh Australia dan Amerika Serikat.  ”Yang sopan santun itu bagus, tetapi kemudian kita lembek dan seakan tidak punya nyali. Itu yang saya sesalkan,” ujar Priyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11).
Priyo mengingatkan pemerintah untuk melapisi diri agar telepon pribadi kepala negara tak semudah itu disadap. Ia juga menuntut penjelasan AS dan Australia. “Kami parlemen kecewa dan perlu penjelasan itu. Tidak cukup hanya dengan pemerintah. Ini masalahnya sudah menyangkut harkat dan kedaulatan,” jelas Priyo yang menyebut kedua negara itu tidak bermoral karena menyadap secara ilegal.

  Hubungan antara Indonesia dengan Australia memanas usai terbongkarnya penyadapan yang dilakukan intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan ibu negara Ani Yudhoyono.
Tak hanya SBY dan Ibu Ani, sejumlah pejabat mulai dari Wakil Presiden Boediono, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan sejumlah menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I dan Jilid II, ikut menjadi korban penyadapan oleh intelijen Australia.
Terbongkarnya penyadapan itu berawal dari dokumen rahasia yang dibocorkan whistleblower asal AS, Edward Snowden, yang dipublikasikan oleh Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan harian Inggris The Guardian, yang menyebut nama Presiden SBY dan sembilan orang di lingkaran dalamnya sebagai target penyadapan pihak Australia.
Laporan tersebut muncul saat hubungan bilateral Indonesia dan Australia tegang terkait tuduhan mata-mata sebelumnya, dan terkait bagaimana menangani masalah manusia perahu yang menuju Australia melalui Indonesia.
Dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa badan intelijen elektronik Australia, Defence Signals Directorate, melacak kegiatan Yudhoyono melalui telepon genggamnya selama 15 hari pada Agustus 2009, saat Kevin Rudd dari Partai Buruh menjadi Perdana Menteri Australia.
ABC mengatakan, salah satu dokumen itu berjudul "3G Impact and Update", dan tampaknya memetakan upaya intelijen Australia untuk mengikuti peluncuran teknologi 3G di Indonesia dan seluruh Asia Tenggara. Sejumlah opsi penyadapan didaftarkan dan sebuah rekomendasi dibuat untuk memilih salah satu darinya dan menerapkannya ke sebuah target, dalam hal ini para pemimpin Indonesia, lapor ABC.
Yang menarik, dari dokumen yang dipublikasikan itu, juga disebutkan daftar merek telepon genggam yang digunakan oleh para pejabat yang disadap. Dikutip dari artikel berjudul “Australia spied on Indonesian president Susilo Bambang Yudhoyono, leaked Edward Snowden documents reveal” di situs www.abc.net.au, disebutkan bahwa saat penyadapan tahun 2009 itu, Presiden SBY menggunakan ponsel Nokia E90-1. Demikian juga Ibu Ani Yudhoyono yang menggunakan ponsel jenis yang sama, termasuk beberapa menteri seperti Hatta Rajasa, Sri Mulyani, dan Sofyan Djalil.
Sementara itu Wakil Presiden Boediono disebutkan menggunakan ponsel Blackberry Bold (9000), sama seperti jubir presiden saat itu, Dino Patti Djalal.
Sedangkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang ikut disadap, saat itu menggunakan ponsel Samsung SGH-Z370.
Kasus penyadapan handphone pemimpin negri ini nampaknya masih menjadi misteri, bagaimana itu terjadi, bagaimana caranya, serta percakapan apa saja yang berhasil ‘diintip’ oleh intelejen Australia.
Spionase itupun tidak hanya melibatkan pucuk pimpinan negri ini, melainkan juga ibu negara serta jajaran mentri dan juru bicara presiden. Terkait hal tersebut, Telkomsel dan Indosat selaku operator dalam negri yang nomor-nomornya digunakan oleh para pejabat mengelak jika pihaknya dituding terlibat dalam kasus tersebut.
“Kami sudah menjalankan sesuai prosedur termasuk mengamankan semua jaringan,” kata Fadjri Sentosa selaku Direktur Indosat seperti dirilis Sindonews.
Namun pihak Indosat tetap bertanggung jawab atas kasus ini dengan cara melakukan cek dan ricek infrastruktur dan keamanan jaringan miliknya.
“Sesuai imbauan dari pak mentri, kami telah melakukan kroscek dan kami tidak menemukan satupun celah, kami sudah sesuai undang-undang,” tutupnya.
Begitu pula dengan Telkomsel, pihaknya menilai tak ingin lepas tanggung jawab begitu saja. Melalui Direktur Network Telkomsel, Abdus Somad Arief, pihak Telkomsel mengaku akan melakukan pengecekan ulang.
“Kami sudah yakin semua proses dan operasional sudah berlaku sesuai standar, tapi kami tetap akan melakukan kroscek sesuai imbauan Mentri Tifatul Sembiring,” jelasnya.
Diharapkan dengan langkah-langkah yang diinstruksikan oleh Menkominfo, kasus serupa tidak terulang lagi.
JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Empat operator seluler di Indonesia disebut dalam pemberitaan tentang operasi penyadapan terhadap pembicaraan telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono oleh Directorate Signals Defense (DSD) Australia. Operator yang disebut itu adalah Telkomsel, Indosat, Excelcomindo dan Hutchison 3.
Bahkan, DSD mengantongi call data record (SDR) tentang catatan komunikasi di handphone SBY. Salah satu nama yang juga masuk dalam sadapan DSD adalah Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).
Menurut Wakil Ketua Umum PAN, Dradjad H Wibowo, harusnya Presiden SBY bertindak tegas untuk merespon aksi penyadapan itu. “Ini bukan soal SBY, Ani Yudhoyono atau Hatta sebagai pribadi. Ini kedaulatan negara,” kata Dradjad saat dihubungi di Jakarta, Senin (18/11).
Mantan anggota DPR RI itu menambahkan, sikap tegas terhadap pemerintah Australia perlu diambil agar Indonesia tetap dihormati sebagai negara berdaulat. Dradjad pun mencontohkan sikap tegas Kanselir Jerman Angela Merkel terhadap pemerintah AS karena telah disadap.
Pria yang pernah tinggal di Australia untuk menempuh program master dan doktoral di University of Queensland itu menambahkan, langkah tegas Merkel terhadap aksi penyadapan AS telah membuat kedaulatan dan kewibawaan Jerman tetap terjaga. “Harus diingat, yang disadap itu bukan Pak SBY yang pensiunan TNI dengan pangkat jenderal, tapi Presiden RI,’”tegasnya.
Tak hanya itu, Dradjad juga menyarankan pemerintah memanggil direksi dan manajer di empat perusahaan seluler yang disebut dalam dokumen penyadapan DSD itu. Menurutnya, harus ada upaya untuk membuat kapok agen-agen asing di Indonesia.
“Gerebek aktivitas CDR mereka. Ini saatnya kontraintelijen BIN dan Polri bergerak,” cetusnya. “Jika ada dugaan staf teknis hingga direksi mereka mengetahui sadapan itu, tangkap mereka. Tidak mungkin mereka (Australia) bisa menyadap tanpa kolaborator dari Indonesia,” pungkasnya.
Hubungan antara Indonesia dan Australia akhir-akhir ini memang cukup memanas. Terlebih menurut data milik Edward Snowden, pemerintah Australia telah menyadap handphone milik Presiden SBY dan beberapa pejabat tinggi lainnya pada tahun 2009. Memanasnya hubungan kedua negara tak hanya terjadi di dunia nyata, para hacker pun turut memanaskannya di dunia maya.
Kelompok hacker The Indonesian Security Down pun melakukan aksi protes kepada pemerintah Australia terkait penyadapan presiden SBY tersebut. Setelah beberapa hari kemarin menyerang situs intelejen Australia, kali ini giliran situs bank sentral Australia yang menjadi target.
Dikutip dari Merdeka, Selasa (20/11/2013), situs ini sempat down beberapa kali. Aksi penyerangan tersebut pun dilakukan beberapa kali, tepatnya ke alamat IP 202.14.155.140 dan port 80 itu. Namun pada saat berita ini ditulis, situs yang beralamat di rba.gov.au ini nampak bisa diakses dengan lancar.
Dalam pernyataannya, Indonesian Security Down mengatakan bahwa aksi ini bertujuan sebagai protes terhadap penyadapan pemerintah Australia. Dengan melakukan serangan ke situs bank sentral, diharapkan bisa mempengaruhi kondisi ekonomi dan sosial negara kangguru itu.
My Auwon © 2013 | Powered by Blogger | Blogger Template by DesignCart.org